Betapa harmoni hijau yang dulu terus mengalunperlahan terusik oleh pekatnya sang hitam
Aku adalah tangan......
Betapa dawai jingga keemasan yang dulu terus mengayun
mulai tergerogoti oleh rakusnya sang hitam
Aku adalah kaki........
Betapa darah merah yang dulu melangkah berani
menjadi berbuih penuh takut sang hitam
Tapi aku adalah hati.....
yang akan menjadi saksi bahwa anak-anakmu terus berjuang
yang akan menjadi kunci bahwa anak-anakmu tak kehilangan impian
yang akan menjadi janji bahwa harapan selalau di sanubari
untukmu Ibu Pertiwi,
hanya untukmu